Mei 13, 2009 oleh ki ageng glethik
Malam larut menyimpan larutan
Larutan untuk sebuah rencana bencana
Kala subuh menjelang
Yang masih larut dalam mimpi tak sempat teriak
Bendungan jebol maka ribuan kepedihan ambrol
Yang teriak tak sempat beranjak
Situ gintung dan mayat terapung
Cirendeu sekitarnya menangis
kita jadi ikutan trenyuh
100 nyawa melayang
Rumah-rumah roboh
jadilah mereka jiwa-jiwa yang merana
Kehilangan harta, benda dan sanak famili
Situ gintung korbannya ditampung
dalam camp pengungsi hingga kini
Tragedi dekat pemilu
maka partai-partai tak tahu malu
memberi bantuan dengan bergaya
supaya dapat suara dibalik suara
Mereka tebar pesona
Sebenarnya ada bom dibalik dengkulnya
Demikian juga saya ada bom dibalik kepalaku
Menulis puisi untuk tugas Bahasa Indonesia
Nilainya moga-moga bagus
Inilah puisi bencana alam, dibungkus politik dan sebuah tugas pelajaran
Tiga dalam satu atau bahasa kerennya three in one
Ponorogo, 11 Mei 2009 15:00
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Mei 13, 2009 oleh ki ageng glethik
Suara hutan menggema
Rumput-rumput tertawa
Ketika sebuah hukum karma datang
Dengan diiringi tangisan awan
yang tiada henti menghujani kota ini
Kota yang dihuni para kurcaci hina
yang tak pernah merasa puas dengan keadaan
Sementara itu rumput masih tertawa
Sambil sesekali mengejek :
“Dasar kurcaci hina
mati kau di telan alam”
Suara tawa mereka semakin keras
hingga membengkakkan telingaku
tangisan sesal pun tak mampu menghentikanya
Ponorogo, 11 mei 2009
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Mei 10, 2009 oleh ki ageng glethik

Bukit Harapan
Ku terbangkan sebuah layang layang setinggi matahari
(aku berbohong sebenarnya hanya diatas kepalaku)
Di tengah asyik ku bermain
datang seekor burung gagak menyobek layang-layangku,
burung milik badut itu.
Entah mengapa aku tertawa riang gembira
Lalu aku pulang dari bukit harapan ini
Sambil bersalto hatiku berkata :
“Akan kubuat layang-layang lagi awas jika tidak kau sobek”
Ditulis dalam Puisi | 5 Komentar »