Feeds:
Tulisan
Komentar

Three In One

Malam larut menyimpan larutan
Larutan untuk sebuah rencana bencana
Kala subuh menjelang
Yang masih larut dalam mimpi tak sempat teriak
Bendungan jebol maka ribuan kepedihan ambrol
Yang teriak tak sempat beranjak

Situ gintung dan mayat terapung
Cirendeu sekitarnya menangis
kita jadi ikutan trenyuh
100 nyawa melayang
Rumah-rumah roboh
jadilah mereka jiwa-jiwa yang merana
Kehilangan harta, benda dan sanak famili
Situ gintung korbannya ditampung
dalam camp pengungsi hingga kini

Tragedi dekat pemilu
maka partai-partai tak tahu malu
memberi bantuan dengan bergaya
supaya dapat suara dibalik suara
Mereka tebar pesona
Sebenarnya ada bom dibalik dengkulnya

Demikian juga saya ada bom dibalik kepalaku
Menulis puisi untuk tugas Bahasa Indonesia
Nilainya moga-moga bagus
Inilah puisi bencana alam, dibungkus politik dan sebuah tugas pelajaran
Tiga dalam satu atau bahasa kerennya three in one

Ponorogo, 11 Mei 2009 15:00

Suara hutan menggema
Rumput-rumput tertawa
Ketika sebuah hukum karma datang
Dengan diiringi tangisan awan
yang tiada henti menghujani kota ini
Kota yang dihuni para kurcaci hina
yang tak pernah merasa puas dengan keadaan

Sementara itu rumput masih tertawa
Sambil sesekali mengejek :
“Dasar kurcaci hina
mati kau di telan alam”
Suara tawa mereka semakin keras
hingga membengkakkan telingaku
tangisan sesal pun tak mampu menghentikanya

Ponorogo, 11 mei 2009

Puisi Pertama

gagak

Bukit Harapan

Ku terbangkan sebuah layang layang setinggi matahari

(aku berbohong sebenarnya hanya diatas kepalaku)

Di tengah asyik ku bermain

datang seekor burung gagak menyobek layang-layangku,

burung milik badut itu.

Entah mengapa aku tertawa riang gembira

Lalu aku pulang dari bukit harapan ini

Sambil bersalto hatiku berkata :

“Akan kubuat layang-layang lagi awas jika tidak kau sobek”

Brrrr

Njajal